Rabu, 22 Mei 2013

Berprasangka Baik



Ada sebuah kisah tentang seorang menteri yang selalu menjawab ‘baik’ setiap kali ditanya pendapatnya tentang sesuatu.
Pada suatu hari, menteri ini menghadiri acara makan malam bersama raja. Ketika sedang memotong buah, raja dengan tidak sengaja telah mencederakan jari telunjuknya sendiri. Pisau yang dia gunakan untuk memotong buah telah menyebabkan jari telunjuknya terpotong dan merasakan kesakitan. Raja pun bertanya kepada menteri yang duduk di sebelahnya tentang kejadian yang baru saja dialaminya.

“Ini adalah Baik, untuk sang raja.” Jawab menteri itu tanpa keraguan.
“Apa? Kamu katakan ini baik?” Raja terperanjat dengan jawapan itu.
“Ya, wahai raja. Itu baik.”

Raja sangat marah dengan jawaban itu. Mana mungkin jarinya yang luka parah seperti itu dianggap menterinya sebagai hal yang baik? Maka dia memerintahkan menteri itu ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.
Kemudian raja mengunjungi menterinya di penjara dan bertanya padanya,

“Sekarang, apa pendapatmu tentang keadaaanmu sendiri, yang sekarang berada di dalam penjara seperti ini?”
“Ini juga Baik untukku , wahai raja.” Jawab menteri itu tanpa ragu-ragu.

Mendengar jawapan itu, raja menjadi semakin marah dan segera meninggalkan menterinya sendirian di dalam penjara. Dia merasakan menterinya itu sangat bodoh dan keterlaluan dalam memberikan pendapat.

Beberapa hari kemudian, raja pergi berburu di dalam hutan dan ditemani menterinya yang lain. Mereka pun berangkat dengan kuda menuju ke hutan. Oleh karena menteri yang baru tidak biasa dengan cara raja menunggang kuda, akhirnya dia tertinggal jauh di belakang. Mereka terpisah dan akhirnya raja sendiri tersesat di dalam hutan. Bukan hanya tersesat, raja juga ditangkap oleh sekumpulan penyembah berhala yang tinggal di dalam hutan itu.

Raja tersebut ditahan oleh para penyembah berhala dan ditetapkan oleh mereka sebagai korban untuk berhala mereka. Mereka melakukan upacara selama tujuh hari dan pada hari ketujuh mereka membawa raja ke tempat persembahan.

Saat raja sudah siap untuk dikorbankan, mereka melihat jari telunjuk raja terpotong, lalu mereka menjadi ragu untuk mengorbankan raja.

“Kita hanya mempersembahkan yang terbaik dan sempurna pada berhala kita.” Kata ketua suku yang memimpin upacara tersebut. “Orang ini jari telunjuknya terpotong, jadi dia tidak layak untuk dijadikan korban,”

Oleh karena itu mereka melepaskan raja tersebut dan beliau kembali ke kerajaannya dengan perasaan yang gembira.

Selang beberapa hari selepas peristiwa itu, raja teringat akan kata-kata menteri yang telah membuatnya marah ketika jarinya terpotong. Dia segera ke penjara dan berkata kepada menteri itu, “Apa yang kamu katakan waktu jari saya terpotong memang betul. Itu memang hal yang baik.”
Lalu raja menceritakan apa yang telah dialaminya hingga dia akhirnya selamat dari ancaman kematian.

Namun sang raja belum paham perkataan dan maksud sang menteri tentang penjeblosannya ke dalam penjara bahwa itu juga hal yang baik untuk dirinya. Lalu sang raja pun menyanyakannya.

“ Wahai menteriku, engkau telah mengatakan bahwa jariku terpotong adalah baik dan itu telah terbukti, namun bagaimana denganmu yang mengatakan bahwa penjara ini baik untukmu..?? “

Akhir Menteri itu tersenyum sambil berkata, “Saya berada dalam penjara ini juga baik kerana jika 
saya pergi dengan raja pada hari itu, saya juga turut tertangkap. Tentu saya akan dijadikan korban sebagai penngganti sang raja kerana anggota tubuh saya lengkap dan tidak ada yang cacat.”

Kesimpulannya, semua yang ditetapkan oleh ALLAH adalah yang terbaik walaupun kita mungkin belum tahu atau tidak mengetahui kebaikan yang ada dibalik semua ketentuan Allah yang di tetapkan untuk kita.
 
Maka berprasangka baiklah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar